Tips Mengelola Stress dengan Baik
Mengenali gejala awal stress dan perilaku apa saja yang harus dihindari untuk mencegah stress berkembang lebih lanjut atau bahkan menjadi depresi.
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengelola stress antara lain:
- Berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.
Buang jauh-jauh skenario “what if” yang belum tentu akan terjadi. Realitas yang ada ya tetap realitas yang terjadi saat ini. Cukup hidup untuk sekarang dan hari ini, apa yang akan terjadi besok adalah urusan nanti.
- Jangan jadikan “sesuatu” sebagai masalah, sampai benar-benar telah menjadi masalah.
Kalau pun saya melihat jelas sesuatu yang berpotensi atau hampir dipastikan akan menjadi masalah, sebisa mungkin akan saya “singkirkan” dulu kekhawatiran saya sampai masalah tersebut benar-benar sudah terjadi. Setidaknya ini dapat membuat saya lebih tenang dan fokus untuk menghadapinya.
- Berhenti mendengarkan “omongan” orang lain.
Pahami bahwa kita tidak bisa mengatur apa yang orang pikirkan/katakan, tetapi kita bisa mengontrol respon kita terhadap hal tersebut. Sejak saya mulai belajar untuk bersikap “cuek” terhadap omongan orang lain, suasana hati saya jadi lebih ringan dan lebih mudah menghindari stress.
- Buat skala prioritas.
Ketika saya merasa memiliki terlalu banyak masalah dalam waktu yang bersamaan (too much on my plate), maka saya akan membuat skala prioritas dan berusaha menyelesaikan masalah yang paling besar/kritis terlebih dulu. Setelah masalah pertama sudah terkendali, baru beralih ke prioritas kedua dan seterusnya.
- Try to eliminate the stressors.
Kita memang tidak bisa selalu menghindari situasi stress, tapi kita bisa mencoba mengurangi dampaknya. Misal, salah satu penyebab stress kamu adalah faktor pekerjaan. Dalam situasi ini apakah kamu bisa melepas beberapa tanggung jawab, mengurangi standar (less perfectionist) atau meminta bantuan orang lain? Jika bisa maka lakukanlah, supaya setidaknya stres levelmu bisa berkurang.
- Take a break if you need to.
Kalau kamu sudah mulai merasa kewalahan dengan situasinya, take a step back and relax. Saya sering melakukan hal ini —mengambil jeda sesaat untuk menenangkan pikiran dan mood. Pertimbangkan juga untuk membatasi aliran informasi yang masuk dan jauhi sosial media untuk beberapa waktu. Setelah pikiran lebih jernih, kembalilah ke realitas dan cari solusinya.
- Coba perbaiki situasinya atau ubah diri.
Jika kamu tidak bisa mengubah situasi, maka ini saatnya kamu mengubah diri. Learn a new pattern, unlearn the old pattern. Belajar hidup dengan cara baru mungkin bisa menjadi solusi atas masalahmu. Jangan takut dengan perubahan.
- Bicarakan atau tulislah.
Seringkali berbicara dengan teman/kerabat bisa sedikit meringankan beban pikiran. Kebetulan saya memiliki sahabat yang sama-sama terdiagnosis autoimun dan depresi, jadi kami sudah memahami situasinya dan bisa saling menasehati. Selain itu saya juga menggunakan media menulis (termasuk menulis di quora, blog dan journaling) sebagai salah satu coping mechanism, dan sejauh ini dampaknya cukup baik untuk kesehatan mental saya.
- Ask for professional help.
Jika stress sudah sangat mengganggu aktivitas atau kamu merasa gagal untuk menyelesaikan permasalahan secara mandiri, maka pertimbangkan untuk berbicara dengan psikolog atau psikiater. Saya sendiri merasa sangat terbantu dengan adanya psikiater karena selain bisa memberikan psikoterapi, psikiater juga boleh meresepkan obat-obatan antidepressant yang sangat membantu proses pemulihan saya.
So far itu adalah beberapa cara untuk mengelola stress supaya tidak berlanjut atau menjadi depresi.
Semoga membantu ya ❤️
Komentar
Posting Komentar