Tips Supaya Kamu Tidak Mudah Terpancing Oleh Hoax

Salah satu caranya adlh dengan membiasakan diri lewat SIKAP ILMIAH.
Apa itu sikap ilmiah?
Sikap Ilmiah merupakan sikap atau kebiasaan yg diambil oleh seorang ilmuwan ketika melakukan kerja ilmiah atau penelitian. Sikap ini sebenarnya gak mesti lu pake ketika sdg di laboratorium aja, tapi juga bisa diterapin oleh semua orang dlm kehidupan sehari-hari, terutama ketika berhadapan dgn sebuah informasi baru.
Apa aja sikap ilmiah itu?
-1. Rasa Ingin Tahu yangg Tinggi
Ketika mendengar sebuah berita baru, kita harus cari tahu dulu sumber & isi dari berita tsb. Dua-duanya penting nih, karena walaupun terkadang sumbernya kredibel, tapi gak selalu ada jaminan kalau isinya bakal mengikuti. Yah, yg namanya media, kemungkinan bakal ada bias politiknya juga atau karena jurnalisnya kurang teliti, sehingga berita yg disampaikan menjadi kurang faktual.
Kalau kita hanya mengandalkan nama besar media yg menjadi sumber berita, berarti kita sudah terjebak ke dalam cacat logika appeal to authority namanya, dimana kita langsung percaya akan sesuatu karena otoritas yg berpengaruh mengatakannya, tanpa memverifikasi validitas pernyataannya lebih lanjut.
Jadi, nanti kalo lu temuin headline berita di sosial media nih, jangan keburu disukai atau dibagikan dulu. Baca dulu isi beritanya, cek sumbernya darimana, dan cari tahu lagi di sumber2 lain utk melihat apakah isi beritanya itu konsisten atau nggak?!
-2. Skeptis terhadap Sesuatu
Artinya, lu jangan langsung percaya, deh sama semua berita yg lu dengar ato lu baca. Karena yang namanya kesalahan dlm meliput, editing, atau penyampaian dari media bisa aja ada.
Kesan pertama adlh curigai berita itu terlebih dahulu, ragukan kebenarannya sampai itu terbukti. Apalagi ketika lu dihadapin sama 2 berita dari sumber berbeda tapi isinya saling bertentangan. Wah, ini patut dipertanyakan nih kebenarannya.
Ini sebenernya gak cuma berlaku buat berita aja, sih. Tapi juga untuk informasi lainnya, misalnya dr buku yg lu baca, artikel/blog yg lu temuin internet, video-video di YouTube ato sosial media, dan WhatsApp keluarga tentunya.
-3. Objektif Melakukan Penilaian
Artinya, lu gak boleh menilai sesuatu dgn berat sebelah. Misalnya, karena informasi ini datang dari media yg kurang dikenal, lu meragukan kredibilitasnya atau malahan gak lu gubris. Tapi, kalau informasinya diperoleh dr media besar, lu lgsg percaya gitu aja.
Selain itu, sisi faktual dari informasi itu juga perlu diperhatikan. Hanya karena informasi itu gak sesuai sama opini lo, lu lgsg gak percaya sama informasi itu — ini cara berpikir yg keliru, karena bisa aja asumsi pertama lu yg salah. Hati-hati dgn jebakan bias konfirmasi!
-4. Dapat Membedakan Fakta & Opini
Fakta adl apa yg benar-benar ada atau terjadi. Ada fakta yg didukung oleh data dan ada fakta yg diterima karena kesepakatan umum. Bedakan itu. Sementara opini adl pendapat/pendirian seseorang mengenai sesuatu. Bisa valid bisa enggak.
Ketika menilai sebuah opini, jangan menganggap bhw semua opini itu sama nilainya. Ketika kita mencari tahu ttg kebenaran mengenai sesuatu, ada opini yg harus kita seleksi, diterima atau diabaikan. Opini itu logis apa enggak, didukung oleh data atau enggak, objektif atau memihak.
Gak semua opini itu sama. Pendapat seorang expert dgn seorang awam itu tidak sama harganya. Tapi, kalau ada pendapat yg jelas-jelas berseberangan dgn fakta yg sudah diketahui oleh semua orang, ya lu harus ambil sikap. Jadi, ya hal-hal seperti itu harus diperhatikan.
-5. Berpikir Secara Kritis & Teliti
Kritis itu artinya elu gak terima gitu aja informasi yg sudah ada. Kalau ada bagian atau narasi didalamnya yg menurut lu janggal, kontradiktif, bertele-tele, atau cacat secara logika — lu gak segan-segan untuk mengajukan pertanyaan, mengkritisi, atau membantah informasi tsb.
Teliti itu berarti lu mencermati secara detail informasi tsb. Apakah ada kesalahan dlm format penyampaiannya, ceritanya kronologis apa enggak, apakah beritanya faktual atau memuat informasi yg gak upto date. Itu adalah hal-hal yg harus diperhatikan.
-6. Jujur Mengungkapkan Fakta
Kalau misalkan nih, lu nemuin berita/informasi yg gak sesuai sama fakta yg sudah diketahui, maka lu harus ambil sikap. Misalnya dgn lu menyampaikan koreksi, ulasan, kritik maupun saran thd informasi yg bersangkutan. Penulis atau media yg berintegritas semestinya mengapresiasi hal itu
Sebenarnya tanggung jawab buat jujur menyampaikan fakta itu ada di pundak si penulis atau media. Akan tetapi, setiap orang mungkin punya blindspotnya masing-masing ketika mengamati sebuah informasi. Tinggal kesadaran lu sbg pembaca-lah untuk mengoreksinya secara jujur bila terdapat kesalahan di sana.
Sikap jujur ini penting, karena scr umum orang itu cenderung beranggapan kalau gak ada bantahan/koreksi thd suatu informasi berarti informasinya benar. Padahal, kenyataannya gak gitu
-7. Bertanggung Jawab
Nah, terakhir tak kalah penting, nih. Gimana kalo lu udah terlanjur menyebarkan berita hoaks kpd orang lain? Ya, mau gak mau lu mesti bertanggunjawab. Kalau perlu lu minta maaf karena sudah menyampaikan hoaks tsb, menarik pesan itu kembali, atau meminta mereka untuk tidak ikut menyebarkannya.
Selain itu, medialah yg utamanya dituntut untuk bisa mempertanggungjawabkan berita/informasi yg mereka sampaikan. Akan tetapi, kadang ada media yg tidak menjalankan kode etiknya dgn baik, sehingga kitalah yg mesti dituntut untuk menyeleksi kebenaran berita itu.
Setidaknya, jangan sampai kita berkontribusi ajalah thd penyebaran hoaks itu. Soalnya, itu sudah diatur dlm hukum dan pelakunya bisa dipidana.
Nah, kalau lu nerapin ke-7 sikap ilmiah ini, kemungkinan lu gak bakalan gampang terjebak oleh hoaks.
Kita sekarang hidup di era kelimpahan informasi, jadi berita palsu juga semakin banyak dan mudah menyebar. Jadi, kita mesti hati-hati. Soalnya, hoaks ini kadang bisa bahaya, gaes. Beberapa berita palsu kadang gak cuma menyesatkan pola pikir masyarakat, tapi juga membahayakan kelangsungan hidup seseorang. Sebagai contoh, "hoaks ttg bahaya vaksin" — kalau banyak ibu-ibu hamil yg termakan hoaks ini nih, waduh bisa bahaya untuk anak-anak mereka nanti.
Termasuk juga, hoaks yg beredar ttg virus korona ini. Kalau saja banyak orang menganggap enteng wabah penyakit ini, maka negara kita akan gagal dalam menangani penyebaran virus tsb. Imbasnya besar, lho!
Akan tetapi, salah satu hoaks yg agak sulit diberantas habis adlh soal teori2 konspirasi, mitos2 atau pesudosains seputar kesehatan, propaganda yg dibalut agama, maupun bias politik selama masa pemilihan umum. Soalnya, itu semua akan selalu muncul ke permukaan begitu ada momentumnya.
Dan ada juga jenis hoaks lain yg sudah bertahan selama ribuan tahun karena dipercaya oleh milyaran manusia. Ya, beberapa berita palsu itu emang bisa bertahan selamanya, lho. Gw rasa lu tahu itu apa 😉
Komentar
Posting Komentar