Dari sakit hati kemudian bangkit dan berproses menjadi dirimu yang lebih hebat sekarang
Saya
yang sekarang masih belum hebat dan masih membawa bekas luka hati yang
mengering oleh waktu. Luka hati yang saya miliki ini tidak bisa dijustifikasi
kedalamannya, mengingat adanya keragaman sudut pandang dan parameter duka
maupun lara. Tetapi, kembali lagi ke dua inti awal pada paragraf ini; sebuah luka dan saya belum merasa hebat.
Kisah-kisah
yang telah saya lalui untuk bangkit dan berproses dari sakit hati terangkum
dalam satu kata,….
ACCEPTANCE
Menerima
realita yang ada agar mampu beranjak maju ke masa depan. Tiada penolakan atas
apa yang telah terjadi. Akui dan
pelajari.
Sounds
easy, right?
Ya,
terdengar mudah. Kedengarannya saja mudah. Toh, hal-hal ideal memang umumnya
bisa bebas dilontarkan tanpa harus dilakukan.
Ada
beragam kisah dengan berbagai genre yang telah terjadi dalam
hidup saya hingga memberikan luka batin yang tak terlupakan. Mulai dari bully, romance, family, action,
hingga horror, pernah saya alami. Kisah-kisah tersebut juga terjadi
dalam beragam rentang usia, dan beberapa di antaranya terjadi sejak rentang
usia belia hingga sedang menuju dewasa (baca: saat ini).
1. Rasakan Pahitnya!
Menerima
apa-apa yang memberi derita pada hati kecil kita memang terasa menyebalkan bagi
saya pada awalnya. Banyak sekali ketidakadilan yang seharusnya tidak terjadi
dalam sudut pandang saya. Tidak semestinya saya menjadi pihak yang tersakiti
hatinya hingga sedemikian rupa, dan sebagainya dan sebagainya.
Hal
mendasar yang saya lakukan untuk mendorong hati dari yang mulanya tersakiti
menuju tahap menerima adalah mengumpulkan semua rasa sakit tersebut. Saya
berusaha untuk menyerap seluruh energi negatif yang saya dapat dari kejadian
yang telah membuat saya sakit hati selama beberapa waktu. Apapun hal-hal yang
mampu menciptakan rasa dan emosi negatif, benar-benar saya resapi satu per
satu. Bila dianalogikan dengan anak kecil yang disuguhkan sayur rebus plus ayam
geprek, hal pertama yang saya lakukan adalah menelan seluruh sayur rebus
tersebut terlebih dahulu hingga hanya menyisakan si unggas berbalut sambal
tercinta.
Tanpa
sisa; saya benar-benar membuat hati merasa tersakiti dahulu hingga tidak ada alasan lagi bagi saya untuk
menambah rasa sakit atas kejadian-kejadian pahit. Hati saya yang
tersakiti ini terus menerus saya aduk hingga tak lagi ada ampas-ampas yang
mengganggu. Seluruh ampasnya saya seruput, hingga larut sempurna agar bisa
dicerna oleh perut.
Saya kumpulkan seluruh alasan untuk menderita karena
merasa sakit hati, hingga tidak ada alasan lagi untuk menjadi lebih menderita
ataupun merasakan pedihnya hati yang tersakiti.
Eliminating
all of the pain is impossible, but our life is full of an impossible
possibility.
Saya memegang konsep bahwasannya hidup ini dipenuhi oleh
kemungkinan-kemungkinan yang nampak mustahil. Banyak kemungkinan mustahil yang
telah terjadi dalam kehidupan saya, termasuk defense mechanism yang
saya sampaikan dalam tahap nomor satu di sini.
It
works for me, not for everyone. But, it's okay for y'all to give it
a try. Fearing of failure doesn't make a better result. So, why
not, right?
2. Siapkan Formula Rahasianya!
Seorang
barista tidak akan bekerja hanya dengan membawa koper berisi biji kopi senja.
Ia juga membutuhkan susu, gula, krimer, coklat, granula, dan beragam condiments lain. Senjata seorang Barista tidak berhenti hanya
pada menjajakan rasa pahit saja!
Lalu,
apa kaitan profesi Barista dengan hati kita yang tengah terluka?
Hati
kita bisa dianalogikan dengan biji kopi; rasa sakitnya yang pahit memang yang
utama, namun bukan segalanya. Rasa sakit merupakan unsur utama yang dominan
pada hati ataupun perasaan yang sedang tidak sehat. Tetapi, kembali lagi, hati
kita juga perlu diberi bumbu agar rasa sakit itu bisa menjadi hal yang terasa
nikmat di kemudian hari?
Mari
kita pertegas bersama rasa nikmat yang harus kita peroleh dari rasa sakit hati.
Rasa sakit akan menjadi nikmat bukan hanya dengan dinikmati mentah-mentah (jika
demikian, kita riskan untuk menjadi masochist). Karena kita semua
ingin berproses menjadi pribadi yang lebih hebat, maka rasa nikmat dari sakit hati tersebut adalah pengalaman berharga.
Rasa
sakit hati yang sedang kita alami saat ini harus kita olah hingga menjadi pengalaman yang berharga. Hal yang
telah kita alami dan benar-benar memiliki harga di hati kita, itulah pengalaman
berharga. Hal yang telah kita alami dan mampu menjadi pengetahuan yang perlahan
mendewasakan kita, itulah pengalaman berharga.
Mari
kita lanjutkan sedikit analogi mengenai kopi dan hati….
Kopi
memiliki beragam jenis dan keunikannya. Ada arabika, robusta, luwak, gayo,
latte, espresso, dan masih banyak lagi (anak Janji Jiwa pasti lebih hafal).
Dari beragam jenis kopi tersebut, poin
inti yang harus kita tekankan adalah masing-masing jenis biji kopi tersebut memiliki metode pengolahan dan cita rasa yang berbeda.
Begitu
juga hati; rasa sakitnya juga bisa
unik dan spesifik. Sakit hati akibat dipecat di masa pandemi saat ini
bisa jadi berbeda jauh rasanya dibanding dengan sakit hati akibat ditolak calon
pasangan yang telah diperjuangkan setengah hati. Akan lebih berbeda lagi jika
rasa sakitnya timbul dari kedua kondisi di atas (well, I hope we wouldn't be
like that).
Mengapa
biji kopi dan rasa sakit hati saya katakan beragam (berbeda-beda). Satu saja
alasannya dan sangat sederhana. Pengalaman.
Berbeda
pengalaman 'lahir', maka berbeda pula pengalaman processing-nya.
Anak tuna daksa dan tuna wicara memiliki pengalaman tumbuh kembang yang
berbeda. Kopi luwak tidak bisa diproses sama seperti halnya Kopi
Kintamani. Begitu juga hati; perlu metode pengolahan rasa yang tepat agar
energi-energi negatif yang terendap bisa diolah menjadi hal positif dan
dinikmati.
Tahap
kedua ini bisa kita katakan sebagai fase yang cukup gambling,
mengingat sifatnya trial and
error. Sangat
sulit bagi kita untuk bisa memprediksikan lama waktu yang kita perlukan untuk
berhasil mengolah rasa sakit hingga totally move-on and become a
better person. Dan tidak mengapa bagi saya, bilamana hati kita tidak bisa
3. Cek Toko Sebelah!
Tahap
ketiga ini tidak ada kaitannya dengan judul dari sebuah film terkenal di kancah
nasional. Saya juga belum pernah menonton film dengan judul tersebut sekali
pun. Bahkan saya lupa momen terakhir menonton film, mungkin yang very
last adalah serial drama Netflix berjudul "Vagabond" pada
tahun lalu (karakter favorit saya adalah Yun Han-Gi, wkwk).
Bila
kita lihat lagi bahasan dari tahap nomor dua, mungkin percobaan kita selalu
gagal karena ada cara ataupun langkah kita yang kurang tepat untuk berproses
dan bangkit dari rasa sakit hati. Mungkin saja, kita kurang mendalami ilmu
agama dengan cara ataupun pemilihan sumber yang tepat. Mungkin pula, kita butuh
pendampingan psikologis dari pihak medis yang cukup kompeten. Dan, masih banyak
lagi kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja menjadi penghambat kita untuk move-on menjadi
pribadi yang lebih baik.
Well,
that's all from me, for now. Dinamika kehidupan saya selama hampir dua dekade
terakhir telah terangkum dalam jawaban ini. Belum seutuhnya terangkum, karena
konteks dalam jawaban ini khusus berfokus pada move-on dan sakit hati.
Terima kasih dan mari bersemangat untuk move-on menjadi
pribadi yang lebih hebat di masa mendatang.

Komentar
Posting Komentar