Dampak dari Seseorang yang Narsistik
Sebelumnya, saya bukan
seorang psikolog atau pun psikiater ya, saya hanya mencoba berbagi sudut
pandang saya pribadi dari pengalaman saya selama berhubungan dengan seorang
yang cenderung berkepribadian narsistik. Cenderung ya, bukan berarti secara
resmi terdiagnosa punya Narsistik Personality Disorder.
Pada tahap awal
hubungan, ia akan tanpak karismatik dengan gaya bicaranya dan cenderung berlaku
selayaknya manusia yang akan mebuatmu terkagum-kagum. Pintar bicara, senang
menyanjung, pokoknya pada honemoon phase ini ia akan bersikap
sebagaimana orang yang akan membuatmu terkesima.
And here comes the
stage 2: Gaslighting.
Gaslighting merupakan permainan mengontrol pikiran dan intimidasi yang sering kali digunakan para narsisis dan sosiopat sebagai jalan mengendalikan, melemahkan, dan membuat seseorang kebingungan. Dalam situs Psychology Today, Jeremy E. Sherman Ph.D menyatakan bahwa gaslighting menyebabkan orang-orang meragukan interpretasi mereka.
Waktu itu hubungan saya selalu dihiasi dengan kata-kata begini, "Akutu nggak akan bersikap demikian kalo seandainya saja kamu bisa lebih memahami keadaanku." atau "Ya kalo kamu sayang sama aku kamu harusnya lebih bisa ngerti." Tapi ini nggak straight to the point dia langsung lempar gini aja, dia pada awalnya akan terus berbicara tentang apapun bahkan ke hal-hal yang nggak berhubungan dengan konteks masalah supaya kamu tenggelam sama ceritanya dia, larut dan tanpa kamu sadari kamu mulai melupakan konflik yang sedang dibahas. Sampai snap, keluar deh tu kalimat-kalimat serupa seperti yang saya sebutkan di atas. Kamu akan secara otomatis terdiam, berpikir bahkan mungkin mempertanyakan perspektifmu sendiri. Yang membuat kamu pada akhirnya tidak melanjutkan argumentasi, seperti malah ingin cenderung mengalah karena merasa bersalah pada dirimu sendiri. Iya, kamu mulai mempertanyakan 'kelayakan' dirimu.
Sekedar cerita singkat, waktu itu saya mempertanyakan mantan saya tentang pinjaman dia yang baru ke aplikasi online, dengan keadaan dia sudah pinjam uang saya. Dia bilang masih kurang, misalnya: Dia bilang dia butuh duit 5 juta, saya pinjemin 5 juta, terus ketahuan sama saya dia apply pinjaman online baru sejumlah 2 juta, saya tanya kenapa harus pinjam lagi? Dia bilang buat bayar utang lainnya. Saya tanya, kan kamu bilang butuhnya 5 juta untuk bayar utang tersebut. Terus dia bilang, kapan gw bilang begitu-lu kayak ga tau aja utang gw kan banyak… Memang duit dari kamu nggak cukup, gw tu lagian minjem pasti buat bayar utang nggak buat lain-lain… lu liat keadaan gw, jalan-jalan aja nggak pernah, nggak kayak lu bisa bergaul kemana-mana. Bla bla bla bla bla…. Lalu ia melanjutkan bicaranya yg berujung begini, "iyaaaa bebi, sedih banget keadaanku loh… sabar ya bebi, gw lagi usaha banget ini benerin semuanya… gw sayang banget sama lu, lu tau sayangnya gw ke lu kayak gimana, tolong ya bebi… ngertiin keadaan gw… sedih banget gw.”
Iya play victim.
Menarik empati kita untuk menerima dan memahami keadaannya.
Stage 3: Power Abuse.
Ia sering menyanjung
dirinya sendiri dengan pernyataan-pernyataan yang membuat kita yakin kalo dia
emang orang paling bener dari semuanya. Dan dalam argumen ia akan selalu
mencari pembenaran sekalipun ia jelas-jelas telah melakukan kesalahan. Yang
sebenarnya nggak bisa ditolerir lagi. The relationship with narcissist is alway
about control. Posesif, over protektif, angkuh, di intimidating setiap
berargumen, itu bakal jadi makanan sehari-hari dari orang yang punya pasangan
narsistik.
Bahkan mantan saya
sampe bilang dia punya ‘pegangan’ yang dari warisan nenek moyangnya turun
menurun. Yang kalo dia marah dia bisa ampe liat sosok setan…. Iya dah halu
banget kan wkwkwkwk.
Catatan Kaki
Narsisme,
Pengertian dan Gejalanya
Meloloskan Diri dari si Penipu
Ulung - Tirto.ID



Komentar
Posting Komentar