Dampak dari Seseorang yang Narsistik

Narsisisme memiliki sebuah peranan yang sehat dalam artian membiasakan seseorang untuk berhenti bergantung pada standar dan prestasi orang lain demi membuat dirinya bahagia. Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis. Kelainan kepribadian atau bisa disebut juga penyimpangan kepribadian merupakan istilah umum untuk jenis penyakit mental seseorang, dimana pada kondisi tersebut cara berpikir, cara memahami situasi dan kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal.

Sebelumnya, saya bukan seorang psikolog atau pun psikiater ya, saya hanya mencoba berbagi sudut pandang saya pribadi dari pengalaman saya selama berhubungan dengan seorang yang cenderung berkepribadian narsistik. Cenderung ya, bukan berarti secara resmi terdiagnosa punya Narsistik Personality Disorder.

Pada tahap awal hubungan, ia akan tanpak karismatik dengan gaya bicaranya dan cenderung berlaku selayaknya manusia yang akan mebuatmu terkagum-kagum. Pintar bicara, senang menyanjung, pokoknya pada honemoon phase ini ia akan bersikap sebagaimana orang yang akan membuatmu terkesima.

And here comes the stage 2: Gaslighting.

Gaslighting merupakan permainan mengontrol pikiran dan intimidasi yang sering kali digunakan para narsisis dan sosiopat sebagai jalan mengendalikan, melemahkan, dan membuat seseorang kebingungan. Dalam situs Psychology Today, Jeremy E. Sherman Ph.D menyatakan bahwa gaslighting menyebabkan orang-orang meragukan interpretasi mereka.

Waktu itu hubungan saya selalu dihiasi dengan kata-kata begini, "Akutu nggak akan bersikap demikian kalo seandainya saja kamu bisa lebih memahami keadaanku." atau "Ya kalo kamu sayang sama aku kamu harusnya lebih bisa ngerti." Tapi ini nggak straight to the point dia langsung lempar gini aja, dia pada awalnya akan terus berbicara tentang apapun bahkan ke hal-hal yang nggak berhubungan dengan konteks masalah supaya kamu tenggelam sama ceritanya dia, larut dan tanpa kamu sadari kamu mulai melupakan konflik yang sedang dibahas. Sampai snap, keluar deh tu kalimat-kalimat serupa seperti yang saya sebutkan di atas. Kamu akan secara otomatis terdiam, berpikir bahkan mungkin mempertanyakan perspektifmu sendiri. Yang membuat kamu pada akhirnya tidak melanjutkan argumentasi, seperti malah ingin cenderung mengalah karena merasa bersalah pada dirimu sendiri. Iya, kamu mulai mempertanyakan 'kelayakan' dirimu.

Sekedar cerita singkat, waktu itu saya mempertanyakan mantan saya tentang pinjaman dia yang baru ke aplikasi online, dengan keadaan dia sudah pinjam uang saya. Dia bilang masih kurang, misalnya: Dia bilang dia butuh duit 5 juta, saya pinjemin 5 juta, terus ketahuan sama saya dia apply pinjaman online baru sejumlah 2 juta, saya tanya kenapa harus pinjam lagi? Dia bilang buat bayar utang lainnya. Saya tanya, kan kamu bilang butuhnya 5 juta untuk bayar utang tersebut. Terus dia bilang, kapan gw bilang begitu-lu kayak ga tau aja utang gw kan banyak… Memang duit dari kamu nggak cukup, gw tu lagian minjem pasti buat bayar utang nggak buat lain-lain… lu liat keadaan gw, jalan-jalan aja nggak pernah, nggak kayak lu bisa bergaul kemana-mana. Bla bla bla bla bla…. Lalu ia melanjutkan bicaranya yg berujung begini, "iyaaaa bebi, sedih banget keadaanku loh… sabar ya bebi, gw lagi usaha banget ini benerin semuanya… gw sayang banget sama lu, lu tau sayangnya gw ke lu kayak gimana, tolong ya bebi… ngertiin keadaan gw… sedih banget gw.”

Iya play victim. Menarik empati kita untuk menerima dan memahami keadaannya.

Stage 3: Power Abuse.


Sampai yang seperti ini:


Ia sering menyanjung dirinya sendiri dengan pernyataan-pernyataan yang membuat kita yakin kalo dia emang orang paling bener dari semuanya. Dan dalam argumen ia akan selalu mencari pembenaran sekalipun ia jelas-jelas telah melakukan kesalahan. Yang sebenarnya nggak bisa ditolerir lagi. The relationship with narcissist is alway about control. Posesif, over protektif, angkuh, di intimidating setiap berargumen, itu bakal jadi makanan sehari-hari dari orang yang punya pasangan narsistik.

Bahkan mantan saya sampe bilang dia punya ‘pegangan’ yang dari warisan nenek moyangnya turun menurun. Yang kalo dia marah dia bisa ampe liat sosok setan…. Iya dah halu banget kan wkwkwkwk.

Catatan Kaki

[1] 

Narsisme, Pengertian dan Gejalanya

[2] 

Meloloskan Diri dari si Penipu Ulung - Tirto.ID


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi Rasa Bosan: Ide-ide Kreatif untuk Mengisi Waktu Luang di Rumah

Memulai Karir sebagai Freelancer: Apa yang Perlu Kamu Ketahui

10 Tips Produktivitas untuk Milenial di Tahun 2024