"Convenience Store Woman" ("Gadis Minimarket") Karya Sayaka Murata

 

Agak miris ya, setelah membaca buku ini. Alasannya karena ternyata, di manapun kita berada, selalu ada orang yang gemar menulis skenario tentang hidup kita. Jenis orang ini selalu ingin dihindari, atau berharap untuk tidak berpapasan dengan orang seperti itu lagi.



Mereka adalah orang-orang yang mungkin pernah mengucapkan hal seperti ini:

·         Mendingan kamu lulus sekolah dulu baru kuliah, deh! Nanti kalau sudah kerja, bisa jadi malas mendaftar kuliah karena sudah terbiasa pegang uang.

·         Wah, gajimu segitu aja, nih? Kecil banget! Mendingan kamu upskill biar punya keahlian yang lebih oke dan bisa dihargai lebih tinggi.

·         Kalau bisa kamu cepat-cepat menikah aja, cari yang udah mapan supaya hidupmu terjamin.

·         Wah, jurusan kuliahmu nggak biasa, ya. Mungkin nanti susah cari kerja. Lebih baik ambil jurusan yang ini…

·         Eh, kamu mau terus fokus kerja cari duit aja sampe kapan? Gak pengen nikah dan punya keluarga gitu?

·         Orang tuamu ini kan sudah tua, apa kamu gak kepengen nikah? Cuma kamu satu-satunya yang belum mentas.

·         Capek-capek kami biayain kamu, tapi ujung-ujungnya kamu susah diatur begini!

·         Eh, mau gak kenalan sama temenku? Dia udah mapan nih, lagi nyari jodoh. Aku liat kamu juga udah saatnya nikah, kan? Coba deh kenalan dulu, siapa tau cocok.

·         Kamu harus mau menerima lamaran dia, karena kami sudah mencarikan yang terbaik buat kamu.

·         Jangan kuliah dulu ya, kasihan adik-adikmu yang masih membutuhkan biaya untuk sekolah. Sebaiknya kamu bekerja terlebih dahulu untuk membantu membiayai mereka.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan ucapan mereka. Toh, mereka mengatakan itu semua demi kebaikan juga, kan? Namun, sebagai orang dewasa, tentu saja aku memiliki rencana hidupku sendiri, sebuah rancangan yang sudah aku pertimbangkan dengan baik.

Banyak orang yang suka memberikan saran tanpa diminta dan mengkritik tanpa mengetahui kondisi yang sebenarnya. Ketika seseorang tiba-tiba mengomentari hidupku, rasanya seperti rencana hidup yang sudah aku buat tadi telah dirampas, dicoret-coret, dan direvisi semaunya sendiri.

Aku hanya tak peduli dan tak pernah merisaukannya. Tapi, mereka membicarakan semua itu dengan asumsi aku menderita. (Gadis Minimarket)

Itulah yang aku rasakan setelah membaca buku karya Sayaka Murata ini. Dia menceritakan dengan sangat jelas kondisi seseorang yang hidupnya selalu diinterupsi dan dianggap tidak umum hanya karena ingin menjalani hidup sesuai keinginannya.

Orang-orang yang hidupnya tidak mengikuti aturan baku yang alurnya tidak berubah sepanjang waktu, justru dianggap melenceng, nyentrik, aneh, atau tidak normal. Aturan baku yang disembah masyarakat sejak zaman purba adalah bahwa manusia seharusnya bekerja, menikah, dan melanjutkan keturunan.

Seseorang yang tidak ingin menikah sering dianggap telah melakukan kesalahan fatal. Begitu juga dengan seseorang yang memutuskan untuk tidak menginginkan anak, atau seseorang yang sudah bekerja keras namun masih dianggap malas hanya karena belum memiliki apa-apa. Orang yang masa depannya suram, kata mereka.

Tanpa pernikahan dan karier, kau tak punya arti dalam masyarakat. Dan orang seperti itu akan disingkirkan. (Gadis Minimarket)

Lebih menyedihkan lagi, orang yang mencoba mengendalikan hidup kita adalah orang terdekat yang kita sayangi. Hanya karena ada ikatan dekat, mereka merasa berhak untuk mencampurinya.

Menjalani hidup jadi terasa semakin berat karena terpaksa mengikuti keinginan orang lain. Secara perlahan, kita akan merasa asing dan kehilangan jati diri. Rasanya ingin melarikan diri, tapi tidak bisa berlari meninggalkan tubuh sendiri. "Siapa sebenarnya aku ini? Dan untuk apa hidupku dijalani?"

Terkadang, seseorang hanya memproyeksikan dirinya kepada orang lain, baik itu kekhawatiran atau keinginan yang tidak dapat diwujudkan. Orang yang merasa puas dengan hidupnya akan senang melihat orang lain bahagia dengan pilihan hidupnya. Namun, orang yang menyesal dengan jalan hidup yang dipilihnya cenderung memaksakan pendapat pribadinya pada orang lain agar mengikuti dirinya.

Aku teringat dengan perkataan seorang filsuf dari China bernama Mozi yang berbunyi: "Orang yang arif dan bijak ibarat sebuah lonceng yang tergantung di kuil, tidak dipukul tidak berbunyi". Maksudnya, jika tidak diminta pendapat, jangan terlalu banyak bicara memberikan pendapat. Jika seseorang tidak ingin dinasihati, jangan memberi nasihat kepadanya karena bisa menimbulkan kesalahpahaman atau antipati.

Namun, kita memang tidak bisa mengendalikan mulut orang lain, kan? Jadi, biarkanlah mereka berkomentar apa saja dan mengotot ingin kita menjadi apa. Seperti Gadis Minimarket yang memilih untuk menutup telinga, dia menjalani hidupnya dengan gembira.

Kita punya hak untuk menentukan jalan hidup terbaik dan batasan privasi untuk diri sendiri, bahkan dari keluarga kita sendiri. Jika orang-orang tersebut benar-benar menyayangi kita, mereka akan selalu membantu saat kita membutuhkan bantuan. Mereka tidak akan memaksakan keinginan mereka pada kita hanya untuk membuat kita bahagia.

Aku hidup di dunia tidak untuk memenuhi ekspektasi siapa-siapa.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghadapi Rasa Bosan: Ide-ide Kreatif untuk Mengisi Waktu Luang di Rumah

Memulai Karir sebagai Freelancer: Apa yang Perlu Kamu Ketahui

10 Tips Produktivitas untuk Milenial di Tahun 2024